Skip to main content

(CERPEN) Keberuntungan atau Kebuntungan

http://www.matapelajaran.org/wp-content/uploads/2015/09/Contoh-Cerpen-Beserta-Rangkaian-Peristiwanya.png

“Pagi pak.” Sapaku kepada penjual majalah.

“Pagi mas. Seperti biasa?” Balas si penjual majalah.
“Iya pak seperti biasa.” Balasku.
“Eh. Buat apa beli majalah?” Tanya temanku Rian.
“Buat lihat keberuntunganku hari ini?” Jawabku.
“Keberuntungan?” tanyanya heran.
“Zodiak Rian..” jawabku sedikit jengkel.
“Ha.. ha .. ha ..” tawanya.
“Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?” tanyaku heran.
“Hari gini kamu masih percaya yang kayak gituan? Ha…ha…ha…” jawabnya sambil tertawa.
“Huh! Zodiak… zodiak… nah halaman 32.” Gumamku sambil mencari halaman yang terdapat zodiak.
“Hei… ini tu sudah 2012 Bro. Masak kamu masih percaya sama yang kayak gituan?” Tegas Rian.
“Biarinlah.” Balasku sambil terus membaca. “ Aries.. ah ini dia. Peruntungan : kalau permasalahan ini terus dibiarkan dan tidak segera ditindak lanjuti, maka keuntungan besar yang sudah didepan mata itu akan hilang lenyap begitu saja. Wah aku harus hati-hati nih. Karir : di hari ini kesempatan bagi kamu untuk meraih hasil yang semaksimal mungkin, maka dari itu jangan ragu untuk menghubungi rekan atau partner kerja yang telah lama putus hubungan. Wah tepat aku juga belum punya kerjaan dirumah nganggur terus. Harus telpon teman nih. Kesehatan….”
“Heh! Jangan lupa nanti siang aku tunggu di warung biasanya. Jangan telat ya.” Kata Rian memutuskan bacaanku.
“Iya iya!” balasku sambil terus membaca. “ Kesehatan : Migrain masih merupakan ancaman serius bagi kamu terutama di kala pikiran menegang karena suatu urusan yang penting. Keuangan : Hindari mengambil resiko yang tak perlu atau belenja yang berlebihan, tapi demi kesuksesan yang akan kamu capai tidak apa-apa. Asmara: Keresahan hati kini terjawab sudah dan kenyataannya tidak seburuk apa yang kamu bayangkan. Warna keberuntungan : hijau dan hindari warna putih. Waduh aku pakai kemeja putih nih, harus diganti nih.”
Aku pun buru-buru pulang kerumah untuk ganti pakaian. Sesampainya dirumah Aku membolak-balikan tumpukan pakainku yang ada dilemari. Tidak kutemukan pakaianku yang berwarna hijau. Aku terus mencari sampai ketempat ember yang berisi pakaian kotor yang belum dicuci. Aku mengambil satu per satu pakaian yang ada di ember itu. Sampai pakaian terakhir, tetap tidak kutemukan pakaian yang berwarna hijau. Akhirnya Aku berjalan kedepan dan duduk dikursi ruang tamu. Aku hela nafasku sebentar. “Hah…” Tak lama kemuadian aku baru menyadari, ternyata selama aku hidup aku belum pernah punya pakaian yang berwarna hijau. “Hah…”  desahan penyesalanku. Kuambil dompet yang ada disaku belakang celanaku. Kubuka dompet itu ternyata isinya tinggal 400 ribu saja. Aku berpikir sejanak, “beli tidak ya?” tanyaku dalam hati. Akhirnya Aku putuskan untuk membeli baju yang berwarna hijau.
Kupacu kuda besiku menembus jalanan ibu kota melewati barisan mobil dan sepeda motor lainnya. Tak lama kemudian kulihat warna lampu lalu lintas didepan sana sudah berwarna merah kupelankan laju motorku dan berhenti tepat dibelakang garis putih. Setelah lampu berwarna hijau kupacu kembali motorku. Tak lama terdengar suara sirine dari arah belakang. Aku pun heran apakah ini suara sirine polisi atau suara sirine ambulan? Lalu kulihat kaca spion sebelah kananku. Ternyata suara sirine polisi. Jantung ku deg degan tak karuan. “ada apa ini? Perasaan nggak ada yang salah. Perasaan tadi lampu sudah hijau lagian aku juga sudah pakai helm. Ada apa ini?” tanyaku dalam hati. Kulihat lagi polisi yang ada di belakangku lewat spion sebelah kananku. Ternyata masih dibelakangku. Lalu kupastikan lagi dengan melihat lewat sebelah kiriku. “Waduh…” kataku dalam hati. Ternyata spion sebelah kiriku tidak ada. Kulihat polisi tadi sudah ada disebelah kananku dan berkata, “bisa minggir sebentar pak?”. Lalu kupinggirkan motorku.
“Selamat siang pak.” Kata polisi itu.
“Siang. Ada apa ya pak?” balasku.
“Bisa lihat surat-suratnya pak?” kata pak polisi.
“Bisa, ada apa ya?” Kataku.
“Maaf pak, kaca spion bapak tidak ada satu, jadi bapak harus saya tilang. Dan surat-suratnya saya bawa untuk diproses. Untuk mengambilnya kembali bapak harus disidang dahulu atau tidak bapak harus membayar denda 150 ribu karena kesalahan yang bapak lakukan itu bisa membahayakan nyawa, soalnya nanti bapak tidak bisa lihat kebelakang.” Jelas polisi itu.
“Wah… saya buru-buru ini pak. Masak hanya spion saja dendanya 150 ribu?” balasku.
“Iya pak soalnya ini menyangkut nyawa pak.” Jelas polisi itu.
“Bisa kurang ndak pak? Saya harus membeli sesuatu nih pak. Dan itu memerlukan uang yang besar.” Tanya ku.
“Ya udah 125?” kata polisi.
“Kurangi lagi lah pak?” rayuku.
“100 ribu.” Tawarnya.
“75 lah?” tawarku.
“Ya udah 75.” Kata polisi itu.
“syukurlah udah kelar.” Kata ku dalam hati.
“Ini pak surat-suratnya, lain kali kalau mau bepergian dicek dulu kelengkapan motornya.” Jelas polisi itu.
“Iya pak maaf.” Kataku.
Kulanjutkan kembali perjalananku. Akhirnya sampai juga di tempat yang aku tuju. Kumasuki pintu mall itu dan langsung menuju ketempat penjualan pakaian. Kupilih-pilih kemeja yang ada didalam toko itu. Kulihat tinggal satu kemeja saja yang berwarna hijau. Kulihat lebelnya, tak kusangka harganya 125 ribu. Kutanya pada penjual baju di toko itu.
“Maaf mbak, ada kemeja selain ini yang lebih murah dan warnanya hijau? Tanyaku.
“Waduh kalau yang hijau cuma tinggal yang ini saja mas. Dan itu sudah harga standar kemeja disemua toko yang ada di mall ini.” Jelas si penjual.
“Waduh… terpaksa nih…” kataku dalam hati. “Ya sudah mbak yang ini saja.”
Kuputuskan untuk membeli kemeja itu. Akhirnya Aku keluar dari mall itu. Kurasakan matahari sudah sangat menyengat diatas permukaan kulitku. Kulihat jam tangan antiku. Ternyata waktunya sudah pukul 11.00 . Dan aku langsung mencari toilet untuk ganti pakaian dengan kemeja yang sudah aku beli tadi. Karena aku sebentar lagi akan janjian dengan Rian. Sesampainya ditempat yang sudah dijanjikan, kulihat Rian sudah ada disana.
“Hai..” sapaku.
“Kau telat tau.” Balasnya.
“Iya maaf, lagi apes nih.” Jelasku.
“Apes kenapa?” tanyanya.
Lalu kujelaskan semua hal yang telah terjadi padaku seharian ini. Dari terkena tilang sampai di mall.
“Ha…ha…ha…” tawanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Tak kusangka kau benar-benar melakukannya. Mana majalahmu tadi?” Katanya.
“Aku tinggal dirumah, memang ada apa?” tanya ku.
“Hem…. Padahala aku mau menunjukan cara meraih keberuntungan dengan mudah dan pasti daripada percaya dengan yang kayak gituan.” Jelasnya.
“Gimana caranya?” tanyaku.
“Heh… nanti kamu lihat iklan-iklan yang ada di majalah itu. Terus cari iklan tentang lowongan kerja yang sesuai dengan kriteria kamu, lalu kamu ajukan deh surat lamaran pekerjaan selesai, kesuksesan segera mendatangimu. Tapi dengan syarat sabar dan harus istiqomah terhadap apa yang kamu dapatkan.”
Aku berpikir dalam hati, “Benar juga apa yang dia katakan, dari pada mencari keberuntungan  dengan sesuatu yang tidak pasti mending aku mencari pekerjaan yang sudah pasti hasilnya.” Kuputuskan mulai hari ini tidak ada Zodiak lagi yang ada hanyalah sesuatu yang pasti untuk diraih.

Comments

Popular posts from this blog

Ciuman Bisa Menyehatkan Hubungan Pasutri

Menurut Wikipedia, Ciuman adalah perbuatan menekankan bibir seseorang terhadap salah satu anggota tubuh diri sendiri atau orang lain. Sebuah ciuman dapat digunakan untuk menyatakan banyak perasaan, antara lain cinta, gairah, kasih sayang, rasa hormat, salam, dan persahabatan. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa ciuman adalah perilaku yang kita pelajari, alias bukan insting dari kita lahir. Contohnya setelah kita nonton film yang punya adegan ciuman, kita jadi pengen nyoba ikutan. Kenapa kita suka ciuman? Banyak faktor yang menyebabkan kenapa banyak manusia yang suka sama Ciuman. Berciuman tentu sangat menyenangkan, saat kita merasa begitu menyatu dengan pasangan seraya merasakan debar jantung dan hembusan napasnya. Bukan hanya itu, dibalik nikmatnya ciuman mengandung sejumlah fakta menarik. Apa saja? Bukan hanya sekadar chemistry Saat paling menyenangkan melakukan ciuman adalah ketika pasangan sudah saling memiliki hubungan emosional yang kuat dan suasananya tepat,...

Stereotip di Indonesia

Menurut Wikipedia, Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang yang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. Namun, stereotipe dapat berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian orang menganggap segala bentuk stereotipe negatif. Padahal faktanya stereotipe dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang stereotipe dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang. Water Lippman sampai saat ini dianggap sebagai orang pertama yang merumuskan stereotip dan membahasnya secara ilmiah dalam bukunya : Public Opinion, terbi...

Kenapa 1 Hari ada 24 Jam?

Pernahkah kita bertanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 jam ada 60 menit, dan dalam 1 menit ada 60 detik? Saat ini kita menggunakan sistem desimal sebagai sitem bilangan sehari-hari, yaitu sebuah sistim bilangan berbasis 10. Namun kenapa pengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60)? Alasan kenapa digunakan bilangan 60 adalah bilangan ini bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam angka pertama yaitu: 1,2,3,4,5,6. Jadi dengan mudah kita bisa terbayang: 1/2 jam = 30 mnt, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit, dst. Bayangkan kalau satu jam = 100 menit, berarti 1/3 jam = 33,333 mnt??? Susahkan? Kalau kata matematisnya, 60 itu highly composite number , atau bilangan yang angka pembaginya/faktornya banyak, yaitu 1,2,3,4,5,6,10,12,15,20,30,60.  Sejarahnya... Sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan program bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah alat jam matahari berbentuk sepert...